The Art of War, Cerita Senjata Rakitan Masa Kecil
Era 80an dan awal 90 an adalah masa keemasan anak2 kecil dalam merakit senjata, dari mulai bahan mentah sampai dengan produk senjata siap pakai yg siap si edarkan untuk keperluan peperangan kala itu,
Yg paling menegangkan dalam proses produksi ini adalah masa pengetesan performa senjata ini yang nantinya senjata ini lolos quality control terkait akurasi dan kecepatan menuju sasaran.
Apa bila daya jangkau nya lumayan jauh maka senjata ini bisa di jadikan sniper u ntuk mengintai lawan dari rerimbunan. Apabila daya jangkaunya standar maka digunakan untuk serangan mendadak dannpertarungan face to face.
Berbahan dasar bambu muda yang bisa di peroleh dari hutan maupun taman-taman bambu yang ada di sekitar kita kala itu, dan untuk bagian dalam tengahnya dapat menggunakan bambu muda atau bambu tua yg diserut bulat sehingga sesuai ukurannya dengan selongsong bambu muda tersebut.
Yang paling seru adalah amunisi untuk senjata ini, untuk mendapatkan tingkat kebisingan dari senjata ini maka bukan peredam yang dipasang, namun pemiliham amunisi yang sesuai, untuk mendapatkan suara yang tidak begitu bising maka pilihan amunisinya bisa di pakai kertas koran yang dibasahi air terlebih dahulu, ketika di masukkkan kedalam selongsong dan picu di tekan (sodok) maka suaranya tidak begitu bising.
lain halnya kalau amunisinya menggunakan putik jambu air, maka suaranya lumayan kencang dan hasilnya pun cukup memabukkan bukan mematikan, lumayan pedih kena kulit dibandingkan amunisi kertas koran.
Senjata itu ketika kami kecil dinamakan pletokan. Jika di daerah sumatra ada yg menyebutnya pelantak.
Masa kecil era itu sangat bahagia karena belum tersentuh gajet seperti skrg ini, ada pun pada saat itu sejenis gadget yg adalah game watch (gimbot) itupun ga bisa dibawa kemana-mana karena diikat oleh si abang yg nenyewakan gimbot tersebut....


